Bismillahirrohmanirrohim

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Jumat, 29 Maret 2013

Tradisi “Margondang Dan Tari Tortor ” Suku Batak

1. Tortor Dan Margondang
Oleh : Syahri Ramadhan Siregar
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM
Tor-tor adalah tarian seremonial yang
disajikan dengan musik gondang. Walaupun
secara fisik tortor merupakan tarian, namun
makna yang lebih dari gerakan-gerakannya
menunjukkan tor-tor adalah sebuah media
komunikasi, dimana melalui gerakan yang
disajikan terjadi interaksi antara partisipan
upacara. Tor-tor dan musik gondang ibarat
koin yang tidak bisa dipisahkan.
Seni tari Batak pada zaman dahulu merupakan
sarana utama pelaksanaan upacara ritual
keagamaan. Juga menari dilakukan juga dalam
acara gembira seperti sehabis panen,
perkawinan, yang waktu itu masih
bernapaskan mistik (kesurupan).
Acara pesta adat yang membunyikan gondang
sabangunan (dengan perangkat musik yang
lengkap), erat hubungannya dengan pemujaan
para Dewa dan roh-roh nenek moyang
(leluhur) pada zaman dahulu.
Tetapi itu dapat dilaksanakan dengan
mengikuti tata cara dan persyaratan
tertentu.umpamanya sebelum acara dilakukan
terbuka terlebih dahulu tuan rumah
(hasuhutan) melakukan acara khusus yang
dinamakna Tua ni Gondang, sehingga berkat
dari gondang sabangunan. Dalam pelaksanaan
tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan
(yang mempunyai hajat akan memintak
permintaan kepada penabuh gondang dengan
kata-kata yang sopan dan santun sebagai
berikut :
“Amang pardoal pargonci…….
1- “Alu-aluhon ma jolo tu omputa Debata
Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa adong,
na jumadihon manisia dohot sude isi ni
portibion.”
2- “Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni
omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa
paisada, omputa paidua, sahat tu papituhon.”
3- “Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka
amanta raja na liat nalolo.”
Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi
dengan pukulan gondang dengan ritme
tertentu dalam beberapa saat. Setelah ketiga
permintaan/ seruan tersebut dilaksanakan
dengan baik maka barisan keluarga suhut yang
telah siap manortor (menari) mengatur
susunan tempat berdirinya untuk memulai
menari. Kembali juru bicara dari hasuhutan
memintak jenis gondang, satu persatu jenis
lagu gondang, ( ada 7 jenis lagu Gondang)
yang harus dilakukan Hasuhutan untuk
memdapatkan (tua ni gondang). Para
melakukan tarian dengan semangat dan
sukacita. Adapun jenis permintaan jenis lagu
yang akan dibunyikan adalah seperti :
permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh
leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan
acara diberi keselamatan kesejahteraan,
kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah,
dan upacara adat yang akan dilaksanakan
menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh
keluarga, serta para undangan.Sedangkan
gondang terakhir yang dimohonkan adalah
gondang hasahatan. Didalam Menari banyak
pantangan yang tidak diperbolehkan, seperti
tangan sipenari tidak boleh melewati batas
setinggi bahu keatas, bila itu dilakukan berarti
sipenari sudah siap menantang siapapun
dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu
pencak silat, atau adu tenaga batin dan lain
lain.
Gambar 2 :” Ulos ” yang selalu dipakai saat
Tortor
Tarian (tor-tor) Batak ada empat gerakan
(urdot) yatu :
1- Pangurdot (yang termasuk pangurdot dari
organ-organ tubuh ialah daun kaki, tumit
sampai bahu.
2- Pangeal (yang termasuk pangeal dari organ
tubuh adalah Pinggang, tulang punggung
sampai daun bahu/ sasap).
3- Pandenggal (yang masuk pandenggal
adalah tangan, daun tangan sampai jari-jari
tangan).
4- Siangkupna ( yangtermasuk Siangkupna
adalah leher,).
Didalam menari setiap penari harus memakai
Ulos.
Didalam menari orang Batak mempergunakan
alat musik / Gondang yaitu terdiri dari: Ogung
sabangunan terdiri dari 4 ogung. Kalau kurang
dari empat ogung maka dianggap tidak
lengkap dan bukan Ogung sabangunan dan
dianggap lebih lengkap lagi kalau ditambah
dengan alat kelima yang dinakan Hesek.
Kemudian Tagading terdiri dari 5 buah.
Kemudian Sarune (sarunai harus memiliki 5
lobang diatas dan satu dibawah).
Peralatannya cukup sederhana namun kalau
dimainkan oleh yang sudah berpengalaman
sangat mampu menghipnotis pendengar.
Menari juga dapat menunjukkan sebagai
pengejawantahan isi hati saat menghadapi
keluarga atau orang tua yang meninggal,
tariannnya akan berkat-kata dalam bahasa
seni tari tentang dan bagaimana hubungan
batin sipenari dengan orang yang meninggal
tersebut. Juga Menari dipergunakan oleh
kalangan muda mudi menyampai hasrat
hatinya dalam bentuka tarian, sering tarian ini
dilakukan pada saat bulan Purnama.
Kesimpulannya bahwa tarian ini dipergunakan
sebagai sarana penyampaian batin baik
kepada Roh-roh leluhur dan maupun kepada
orang yang dihormati (tamu-tamu) dan
disampaikan dalam bentuk tarian
menunjukkan rasa hormat.
2. Klasifikasi Margondang
Walaupun Tari Tortor dan Margondang selalu
berkaitan dan takkan pernah pisah dalam
suatu acara adat . Akan tetapi Margondang
sendiri punya pengklasifikasian dari mulai di
temukannya Margondang tersebut.
Secara umum dikalangan masyarakat Batak
Toba, ensambel gondang hasapi dan gondang
sabaguan selalu disertakan dalam setiap
upacara, baik upacara adat maupun upacara
religi.Upacara yang menyertakan gondang
dalam pelaksanaannya di sebut dengan
margondang (memainkan gondang ).
Sedangkan nama dari upacara dimana
gondang tersebut dimainkan di dentik dengan
nama margondang tersebut, misalnya
margondang adat, margondang saur matua
dan sebagainya. Hal tersebut diatas
merupakan suatu persepsi yang utuh tentang
peranan gondang yang sangat esensial dalam
upacara adat maupun religi. Pada dasar
kegiatan margondang pada masyarakat batak
dapat dikalisifikasikan menurut zamannya ,
yaitu margondang pada masa purba dan
margondang pada masa sekarang.
A.Margondang Pada Masa Purba
Yang dimaksud dengan Masa purba adalah
masa dimana sebelum masuknya pengaruh
agama Kristen ketanah batak, dimana pada
saat itu masih menganut aliran kepercayaan
yang bersifat polytheisme.Pada masa purba
penggunaan gondang dalam konteks hiburan
maupun pertunjukan belum didapati
masyarakat .Keseluruhan kegiatan di tujukan
untuk upacara adat maupun upacara religi
yang bersifat sakral.Oleh karena itu upacara
margondang pada masa purba dapat dibagi
dalam 2 bagian ,yaitu :
1. Margondang adat, yaitu suatu upacara
yang menyertakan gondang, merupakan
akualisasi dari aturan-aturan yang dibiasakan
dalam hubungan manusia dan manusia
(hubungan horizontal), misalnya : gondang
anak tubu (upacara anak yang baru lahir),
gondang manape goar (upacara pemberian
nama/ gelar boru kepada seseorang), gondang
pagolihan anak (mengawinkan anak), gondang
mangompoi huta (peresmian perkampungan
baru), gondang saur matua (upacara kematian
orang yang sudah beranak cucu) dan
sebagainya.
Gambar 3 : Gondang Sembilan , alat yang
dipakai saat Margondang
2. Margondang religi, yaitu upacara yang
menyertakan gondang, merupakan akualisasi
dari suatu kepercayaan tau keyakinan yang
dianut dalam hubungan manusia dengan
tuhan-nya atau yang disembahnya (hubungan
vertikal), misalnya : gondang saem (upacara
untuk meminta rejeki), gondang mamele,
(upacara pemberian sesajen kepada roh),
gordang papurpur sapata (upacara
pembersihan tubuh/ buang sial) dan
sebagainya.
Walaupun upacara margondang masa purba
dibagi ke dalam dua bagian, namun hubungan
dengan adat dan religi dalam suatu upacara
selalu kelihatan dengan jelas. Hal tersebut
dapat dilihat dari tata cara yang dilakukan
pada setiap upacara adat yang selalu
menyertakan unsur religi dan juga sebaiknya
pada setiap upacara religi yang selalu
menyertakan unsur adat. Unsur religi yang
terdapat dalam upacara adat dapat dilihat
dari beberapa aspek yang mendukung upacara
tersebut, misalnya : penyertaan gondang,
dimana dalam setiap pelaksanaan gondang
selalu diawali dengan membuat tua ni
gondang ( memainkan inti dari gondang), yaitu
semacam upacara semacam meminta izin
kepada mulajadi nabolon dan juga kepada
dewa-dewa yang dianggap sebagai pemilik
gondang tersebut. Sedangkan unsur adat yang
terdapat dalam upacara religi dapat dilihat
dari unsur dalihan na tolu yang selalu
disertakan dalam pada setiap upacara.
Menurut Manik, bahwa pada mulanya agama
dan adat etnik Batak Toba mempunyai
hubungan yang erat, sehingga tiap upacara
adat sedikit banyaknya bersifat keagamaan
dan tiap upacara agama sedikit banyaknya
diatur oleh adat (1977: 69).
Walaupun hubungan dari kedua adat dan religi
selalu kelihatan jelas dalam pelaksanaan
suatu upacara, perbedaaan dari kedua
upacara tersebut dapat dilihat dari tujuan
utama suatu upacara dilaksanakan. Apabila
suatu upacara dilaksanakan untuk hubungan
manusia yang disembahnya, maka upacara
tersebut di klasifikasikan kedalam upacara
religi. Apabila suatu upacara dilakukan untuk
hubungan manusia dengan manusia , maka
upacara tersebut dapat di klasifikasikan ke
dalam upacara adat.
B. MARGONDANG PADA ZAMAN SEKARANG
Gambar 4 : ” Margondang pada zaman
sekarang
Margondang pada masa sekarang merupakan
perkembangan dari cara berpikir masyarakat
setelah pengaruh gereja sudah sangat kuat
pada masyarakat Batak Toba.Dalam ajaran
Kristiani, gereja hanya mengakui satu Tuhan
yang harus disembah yaitu Tuhan Yesus
Kristus, apabila ada anggota gereja masih
melakukan penyembahan terhadap roh roh
nenek moyang dan kepercayaan mereka yang
lama, maka orang tersebut aka dikeluarkan
dari anggota gereja tersebut. Oleh karena
itu,muncul beberapa masalah yang bersifat
problematic tentang penggunaan gondang
batak dalam kegiatan adat maupun
keagamaan .
Di satu pihak orang Batak ingin
mempraktikkan dan menghayati gondang itu
menurut visi dan tradisi yang sudah sangat
mendarah daging, dilain sisi ada kelompok
yang menolak gondang untuk dipergunakan
dalam upacara adat maupun keagamaan,
karena mereka melihat unsur-unsur animism
pada gondang tersebut , ada ketakutan
mereka mempelajari sejarah batak dan
menghidupi unsur-unsur kebudayaannya.
Ketakutan ini timbul karena adanya predikat
yang kurang baik sepeti kafir, kolot da tuduhan
lain yang diberikan penganut kebudayaan
tersebut. (Sangti 1977 : 17) Pada bagian yang
lain ada juga kelompok agama tradisional
pada masyarakat Batak Toba yang menentang
ajaran Kristen.
Kelompok ini masih mempertahankan nilai-
nilai kebudayaan tradisional dalam kehidupan
sehari-hari. Oleh karena itu, terdapat banyak
variasi-variasi pemikiran tentang hubungan
antara kebudayaan tradisional dengan agama
Kristen yang datang dari pihak gereja seperti
tertulis oleh Verkuyl (1960: 36 ), antara lain :
1. Sikap antagonis (sikap menetang atau sikap
negatif) terhadap kebudayaan yang ada.
2. Sikap akomodatif dan kapitulatif (skap
menyesuaikan diri ) terhadap kebudayaan
yang ada.
3. Sikap dominasi (sikap menguasai) dari pihak
gereja terhadap kebudayaan.
4. Sikap dualistic (sikap serba dua) atau sikap
memisahkan iman dengan kebudayaan dan
5. Gagasan tetang pengudusan kebudayaan
atau motif pertobatan kebudayaan.
Hingga saat ini keseluruhan sikap diatas
masih sering terjadi dalam kegiatan-kegiatan
tradisional. Dengan demikian banyak variasi-
variasi tersebut adalah berdasarkan konsep
pemikiran oleh yang melakukan kegiatan.
Dalam hal ini, konsep margondang pada
masa sekarang dapat dibagi dalam tiga bagian
besar, yaitu :
a. Margondang pesta, suatu kegiatan yang
menyertakan gondang dan merupakan suatu
ungkapan kegembiraan dalam konteks hibuan
atau seni pertunjukkan, misalnya : gondang
pembangunan gereja, gondang naposo,
gondang mangompoi jabu (memasuki
rumah) dsb.
b. Margandang adat, suatu kegiatan yang
menyertakan gondang, merupakan aktualisasi
dari system kekerabatan dalihan na tolu,
misalnya : gondang mamampe marga
(pemberian marga), gondang pangolin anak
(perkawinan), gondang saur matua
(kematian), kepada orang diluar suku Batak
Toba, dsb.
Gambar 5 : Tari Tortor dan Margondang saat
pesta pernikahan
c. Margondang Religi, upacara ini pada saat
sekarang hanya dilakukan oleh organisasi
agamaniah yang masih berdasar kepada
kepercayaan batak purba. Misalnya
parmalim, parbaringin, parhudamdam
Siraja Batak. Konsep adat dan religi pada
setiap pelaksanaan upacara oleh kelompok ini
masih mempunyai hubungan yang sangat erat
karena titik tolak kepercayaan mereka adalah
mulajadi na bolon dan segala kegiatan yang
berhubungan dengan adat serta hukuman
dalam kehidupan sehari-hari adalah
berdasarkan tata aturan yang dititahkan oleh
Raja Sisingamangaraja XII yang dinaggap
sebagai wakil mulajadi na bolon.
3. MUSIK YANG DIPAKAI SAAT
MARGONDANG
Pada masyarakat Batak Toba terdapat dua
ensambel musik tradisional yang sering
dipakai dalam acara Margondang, yaitu :
ensambel gondang hasapi dan ensambel
gondang sabagunan. Selain itu ada juga
instrument musik tradisional yang digunakan
secara tunggal.
A.Ensambel Gondang Hasapi
Ensambel gondang hasapi memiliki beberapa
instrument yang dapat diklasifikasikan
menurut instrumentasinya. Hasapi ende
(pluked lute dua senar) adalah instrument
pembawa melodi dan merupakan instrument
yang dianggap paling utama dalam ensambel
gondang hasapi. Klasifikasi instrument ini
termasuk ke dalam kelompok chordophone.
Tune atau system dari kedua senarnya adalah
dengan interval mayor yang dimainkan dengan
cara mamiltik (memetik).
1. Hasapi doal (pluked flude dua senar),
instrumen ini sama dengan hasapi ende
namun dalam permainannya hasapi doal
berperan sebagai pembawa ritem konstan.
Ukuran instrument hasapi doal lebih besar
sedikit dari hasapi ende.
2. Sarune etek (shawn), adalah instrument
pembawa melodi yang memiliki reed tunggal
(single reed). Klasifikasi ini termasuk dalam
kelompok aerophone yang memiliki lima
lobang nada (empat dibagian atas, satu di
bagian bawah) dimainkan dengan cara
mangombus marsiulak hosa10. Garantung,
adalah instrument pembawa melodi yang
terbuat dari kayu dan memiliki lima bilah
nada. Klasifikasi instrument ini termasuk ke
dalam kelompok xylophone. Selain berperan
sebagai pembawa melodi, juga berperan
sebagai pembawa ritem variable pada lagu-
lagu tertentu. Dimainkan dengan cara
mamalu.
3. Mengmung (bamboo idiochordo) adala
instrument pembawa melodi konstan yang
memiliki tiga senar. Senarnya terbuat dari
kulit bamboo tersebut. Klasifikasi instrument
ini bisa dimasukkan kedalam kelompok
idiochordophone.
4. Hesek, adalah instrument pembawa tempo
(ketukan dasar) yang terbuat dari pecahan
logam atau besi dan kadang kala dipukul
dengan botol kosong. Instrumen ini dimainkan
dengan cara mengadu pecahan logam
tersebut sesuai dengan irama dari suatu lagu.
Klasifikasi ini termasuk kedalam kelompok
idiophone.
Bentuk Penyajian Gondang Hasapi
Sampai sejauh ini, mengenai konsep yang
berhubungan dengan aturan dan bentuk
penyajian gondang hasapi belum dapat
dijelaskan secara pasti. Hal ini sejalan dengan
yang dikemukakan Purba (1991) dalam
tulisnnya pad harian Sinar Indonesia Baru
yang mengatakan :
“Bukanlah suatu yang baru jika seseorang
melihat variasi bentuk susunan instrument di
dalam ensambel gondang hasapi. Adakalanya
susunan (komposisi) instrument Gondang
Hasapi tergantung pada konteks penggunaan,
jumlah musisi serta instrument yang tersedia
“(Purba 1991 :VII) dalam harian Sinar
Indonesia Baru. Dari uraian diatas dapat
diketahui bahwa untuk melihat dan
mengetahui secara umum suatu bentuk
penyajian dan komposisi insrumen yang
dipergunakan pada Gondang Hasapi, dapat
ditinjau berdasarkan tiga konteks penyajian,
yaitu religi, adat dan hiburan. Dalam konteks
religi, menurut Osner Gultom (salah seorang
musisi tradisi dari penganut Parmalim),
gondang Hasapi yang digunakan pada upacara
UGAMO (agama) Pamalim, hal-hal yang
berkaitan dengan komposisi instrument,
merupaka salah satu yang sangat
diperhatikan, baik yang berhubungan dengan
penambahan dan pengurangan dari jumlah
instrument yang digunakan, serta hal lain yang
sangat diperhatikan adalah aspek-aspek-aspek
yang berhubungan dengan komposisi lagu
(Gondang) yang akan disajikan (dimainkan).
Kedua hal tersebut adalah kondisi yang sangat
diperhatikan oleh masyarakat ajaran
Parmalim.
Gambar 6 : Manortor didepan rumah adat suku
batak
Dalam konteks adat, menurut beberapa musisi
Batak Toba hal seperti diatas tidak terlalu
dipermasahkan, angka nada beberapa hal
yangmendapat perhatian seperti hal-hal yang
berhubungan dengan konsep Sipitu Gondang,
yaitu urutan suatu komposisi musik yang
terdiri dari tujuh buah Gondang yang
dimainkan secara berturut-turut pada awal
upacara. Walaupun ada kalanya didalam
pelaksanaan sejanjutnya aturan-aturan
mengenai jenis Gondang yg dimainkan tida
terlalu ketat, (tergantung dari seseoarang
yang meminta Gondang dari Pargonsi) yang
disebut “Raja Parmalim”, namun demikian
biasanya jenis Gondang yang akan dimainkan
pada upacara adat, jeni Gondang yang akan
pad upacara adat, jenis dan sifatnya sudah
tertentu (lihat Purba 1989:2-5). Sedangkan
dalam konteks yang bersifat hiburan, hal-hal
yang berhubungan dnegan kompossi
instrumentasi dan jenis lagu yang dimainkan,
dapat dikataan tidak memiliki atran yang
khusus. Juga hal-hal yang berkaitan dengan
penambahan jenis instrumenya, menurut
informan biasanya tidak tertutup kemungkinan
untuk ditambah, prinsipnya asalkan instrument
yag ditambah karakter suaranya dapat
disesuaikan dengan kondisi instrument yang
telah ada. Dari ketiga penyajian bentuk
Gondang Hasapi, terdapat suatu hal yang
spesifik sifatnya, hal ini akan terlihat pada
saat penyajian Gondang Tersebut, dimana
Gondang tersebut akan dimainkan secara
Heterofonis. Sedangkan hal-hal yang
berhubungan dengan tempat pertunjukkan
Gondang Hasapi yaitu : dimana unsur-unsur
yang bersifat spontanitas dari para pemusik,
yaitu pada saat pertunjukkan Gondang,
dimana salah satu pemusik (tanpa terkecuali)
memberikan suatu teriakan, yag bertujuan
agar pemain dan orang-orang yang sedang
menortor agar lebig semangat. Sedangkan
hal-hal pendekatan yang bersifat
instrumentalia (tanpa vokal) Namun gondang
hasapi yang disajikan dalam konteks hiburan
seperti tradisi opera batak, unsur-unsur vocal
sering dipakai, sehingga bisa dikatakan
Gondang Hasapi dalam konteks “opera batak”
sebagai pengiring vocal ataupun penggiring
tarian, seperti Tumba dan tor-tor.
Fungsi Instrumen Hasapi di Dalam
Gondang Hasapi
Hasapi adalah salah satu instrumen pokok
didalam Gondang Hasapi, oleh karena
disamping sebagai pembawa melodi, juga
nama dri instrument hasapi dapat dipakai
untuk mewakili instrument lain yang ada
dalam Gondang Hasapi. Disamping itu
merupakan hasil pengamatan dilapangan
bahwa instrument hasapi adakalanya dipakai
untuk memulai dan mengakhiri gondang, hal
ini dilakukan oleh pemain hasapi. Melihat
eksistensi instrument hasapi, baik fungsi,
nama maupun karakter suaranya, juga seni
perghargaan dari masyarakta pendukungnya,
dapat dikatakan bahwa instrument hasapi
merupakan instrument yang memimpin
(leader) didalam gondang hasapi.
B. Ensambel Gondang Sabangunan
Ensambel gondang sabagunan mempunyai
beberapa istilah yang sering digunakan oleh
masyarakat Batak Toba, yakni ogung
sabagunan dan gondang bolon. Instrument
yag termasukdalam kelompok gonadang
sabaguna antara lain :
1. Taganing, yaitu lima buah gendang yang
berfungsi sebagai pembawa melodi dan juga
sebagai ritem variable dalam beberapa lagu.
Klasifikasi instrumen ini termasuk kedalam
kelompok membranophone. Dimainkan
dengan cara dipukul membrannya dengan
menggunakan palu-palu (stik).
2. Gordang (single headed drum), yaitu satu
buah gendang yang lebih besar dari taganing
yang berperan sebagai pembawa ritem
konstan maupun ritem variable. Instrument ni
sering disebut sebagai bass dari ensambel
gordang sabagunan.
3. Sarune bolon (shawm), yaitu termasuk
pembawa melodi yang memiliki reed ganda
(double reed). Dimainkan dengan cara
mangombus marsiulakhosa (circular
breathing). Klasifikasi instrument ini
termasuk kedalam kelompok aerophone.
4. Ogung (gong), yaitu empat buah gong yang
diberi naam oloan, ihutan, doal dan
panggora. Setiap ogung mempunyai ritem
yang sudah konstan. Instrument ini berperan
sebagai pembawa ritem konstan atau
pembawa irama dalam gondang sabagunan.
Klasifikasi ini termasuk kedalam kelompok
idiochorphone.
5. Odap (double headed drum), yaitu
gendang dua sisi yang berperan sebagai
pembawa ritem variable. Instrument ini
dimainkan untuk lagu-lagu tertentu dalam
gondang sabagunan dan sering digunakan
ketika pawai. Klasifikasi instrument ini
termasuk kedalam kelompok
membranophone.
6. Hesek, adalah instrument pembawa tempo
(ketukan dasar) yang terbuat dari pecahan
logam atau besi dan kadang kala dipukul
dengan botol kosong. Instrumen ini dimainkan
dengan cara mengadu pecahan logam
tersebut sesuai dengan irama dari suatu lagu.
Klasifikasi ini termasuk kedalam kelompok
idiophone
Gordang sabagunan pada zaman dahulu
digunakan untuk setiap upacara yang
berhubungan dengan upacara adat maupun
upacara religious. Gondang berperan sebagai
media yang meghubungkan manusia dengan
penciptanya atau disembahnya dalam
hubungan vertikal juga sebagai media yang
menghubungkan manusia dengan sesamanya
dalam hubungan horizontal. Dalam permainan
gondang sabagunan instrumne odap sudah
jarang digunakan karena permainan dari odap
tersebut digantikan dengan meggunakan
taganing yang mempunyai suara yang sama.
Tangga nada yang ada dalam instrument
pembawa melodi yakni taganing dan sarune
bolon mempunyai tangga nada yang
pentatonis. Namun dalam hal ini istilah
pentatonic yang terdapat dalam gondang
sabagunan bukan seperti konsep pentatonic
yang ada dalam musik barat melainkan hanya
suatu sebutan terhadap tangga nada yang
mempunyai lima nada dalam konsep gendang
sabagunan. Pada dasarnya permainan
instrument taganing atau sarune terjalin
dalam hubungan melodi yang heteroponis
dimana kedua instrumentersebut menbawakan
melodi yang sama dalam beberapa repertoar,
namun tangga nada ataupun tonalitasnya
berbeda. Oleh karena itu istilah heteroponis
untuk sarune heteroponis untuk sarune dan
taganing ini terjalin dalam heteroponis
polytonal.
Instrument tunggal
Instrument tunggal adalah alat musik yang
dimainkan secara tunggal yang terlepas dari
ensambel gondang hasapi maupun gondang
sabagunan. Instrument ini biasanya digunakan
untuk mengisi waktu luang, menghibur diri.
Instrument ini juga tidak pernah dimainkan
dalam upacara yang bersifat ritual. Instrument
yang termasuk dalam kelompok instrument
tunggal, antara lain :
1. Sulim (transverse flute), yaitu alat musik
yang terbuat dari bamboo, memiliki enam
lobang nada dan satu lubang tiupan.
Dimainkan dengan cara meniup dari samping
( slide blow flute) yang dilakukan dengan
meletakkan bibir secara horizontal pada
pinggir lobang tiup. Instrument ini biasanya
memainkan lagu-lagu yang bersifat
melaonkolis ataupun lagu-lagu sedih.
Klasifikasi instrument ini termasuk dalam
kelompok aerophone.
2. Saga-saga (jew’s harp) yang terbuat dari
bamboo yang dimainkan dengan cara
menggetarkn lidah dari instrument tersebut
dan rongga mulut yang berperan sebagai
resonator. Klasifikasi instrument ini termasuk
dalam kelompok idiophone.
3. Jenggong (jew’s harp), yaitu alat musik
yang terbuat dari logam,mempunyai konsep
yang sama dengan saga-saga.
4. Talatoit (transverse flute), yaitu alat
musik yang terbuat dari bamboo, sering
disebut juga dengan salohat atau tulila,
dimainkan dengan cara meniup dari samping.
Mempunyai lubang penjarian yakni dua disisi
kiri dan dua disisi kanan, sedangkan lubang
tiup berada ditengah. Instrument ini biasanya
memainkan lagu-lagu yang bersifat melodis
dan juga bersifat ritmik. Klasifikasi instrument
ini termasuk dalam kelompok aerophone.
5. Sordam (long flute), yakni alat musik yang
terbuat dari bamboo. Dimainkan dengan cara
meniup dari ujungnya ( up blown flute)
dengan meletakkan bibir pada ujung bamboo
secara diagonal. Memiliki enam lubang nada,
yakni dibagian atas dan satu dibagian bawah,
sedangkan lubang tiupnya merupakan ujung
dari bamboo tersebut.
6. Tanggetang, yakni alat musik yang
senarnya terbuat dari rotan dan peti kayu
sebagai resonator. Permainan instrument ini
bersifat ritmik atau mirip dengan gaya
permainan gong maupun gaya permainan
mengmung. Klasifikasi instrument ini
termasuk kedalam kelompok chordophone.
Dari keseluruhan instrument tunggal yang ada
pada masyarakat Batak Toba, instrument
sulim merupakan instrument yang paling
sering digunakan dan dimainkan dalam
kehidupan sehari-hari, karena mempunyai
frekuensi nada yang lebih kuat dan lebih
lembut, mudah dibawa kemana saja serta
sangat mendukung dimainkan untuk
menggungkapkan emosional seseorang.
4.Kesimpulan
Gambar7 : Tari Tortor pada acara perkumpulan
suku batak
Dari pernyataan diatas kita bisa mengambil
kesimpulan bahwa Margondang dan Tari
tortor adalah dua kata yang tidak bisa
dipisahkan dalam suatu pelaksanaannya
menurut tradisi suku batak. Tari tortor
tersebut mengalami suatu revolusi dari zaman
munculnya hingga sekarang, sehingga
masyarakat suku batak sekarang melakukan
tradisi tersebut sesuai dengan ajaran agama
mereka masing masing dan disesuaikan juga
dengan ajaran para leluhur mereka.Walaupun
ada beberapa perbedaan agama pada suku
Batak tapi itu tidak membuat masyarakat suku
batak berbeda dalam hal adat dan
tradisinya.Mereka berusaha menyesuaikan
tradisi yang dibawa oleh leluhur mereka
dengan ajaran ajaran agama yang mereka
anut.
5.Daftar Pustaka
Anak boruna, dkk. 1993. Horja Adat Istiadat
Dalihan Na Tolu. Jakarta: Parsadaan Marga
Harahap Dohot Anak Boruna
Aminudin. 1991. Pengantar Apresiasi karya
Sastra. Malang: Y A3 Malang
Awuy, F. Tommy. 1992. Teater Indonesia
Konsep, Sejarah, Poblema. Jakarta: Dewan
Kesenian Jakarta
BPS (Badan Pusat Statistik). 2006.
Mandailing Natal dalam Angka 2006.
Mandailing Natal: Badan Pusat Statistik
Kabupaten Madina
Dananjaja. James. 1994. folklor indonesia.
Jakarta: PT. Temprint
Dekdikbud. 1982. Ulos. Jakarta: Proyek Media
Kebudayaan
Koentjaraningrat. 1984. Kamus Istilah
Antropologi. Jakarta: Pusat Pengenbangan
Bahasa Depdikbud
Leaflet. Mandailing Natal
Moleong, 1989. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Bandung: Remaja Karya
Padmodarmaya, Pramana. 1990. Pendidikan
Seni Teater. Jakrta.: Depdikbud
Saragih, F. Nangkir. 1994. Pendidikan Seni
Tari. Jakarta: Erlangga
Sediawati, Edi. 1981. Budaya Indonesia,
Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sudarsono. 1977. Tari-Tarian Indonesia I.
Jakarta: Depdikbud

Dikutip dari Syahri Ramadhan Siregar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAPANULI NADEGES BLOGNYA ORANG TAPANULI

Masyarakat Tapanuli juga bisa berperan dalam mengirimkan berita tentang tapanuli, baik itu budaya, adat istiadat, peristiwa alam, perjalanan, maupun karya seni seperti photo video, cerpen dll. dapat dikirimkan ke email: tapanulinadeges@gmail.com http://tapanulinadeges.blogspot.com/2013/11/mari-kirimkan-karyamu-ke-tapanuli.html

Tapanuli Tanah yang kaya dan masyarakatnya beradat
Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh