Bismillahirrohmanirrohim

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Tampilkan postingan dengan label wisata alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata alam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Februari 2014

PAPA TEAM SEBAGAI ORGANISASI PENJELAJAH ALAM PERTAMA DAN PELOPOR DI KOTA PADANGSIDIMPUAN

Logo PAPA Team Kota Padangsidimpuan




|Manisnya Sejarah PAPA Team|
Tahukah sahabat alam semua siapa dan seperti apa perkembangan penggiat alam bebas di kota Padangsidimpuan? nah.. biar tahu seperti apa proses berkembangnya komunitas penjelajah alam ataupun pecinta alam di kota Padangsidimpuan mari kita simak.

Persatuan Anak Penjelajah Alam atau yg biasa disingkat PAPA Team atau Tim PAPA. Sejarah PAPA Team ini sangat erat kaitannya dengan organisasi Pradja Muda Karana atau yang disingkat Pramuka, kenapa bisa? ya.. para pendiri PAPA Team ini berlatar belakang Pramuka, karena memiliki hobbi yang sama maka founding father PAPA Team menyalurkan hobbinya melalui organisasi yang dibentuk bersama yaitu organisasi independen PAPA Team. Tapi, siapakah gerangan pendiri PAPA Team dan seperti apa ceritanya? Nah.. pendiri PAPA Team yang sering disebut-sebut PAPA Team itu ada 4 orang, yaitu:
» Arjuna Hiqmah Lubis
» Decky Chandrawan
» Andriadi
» Mhd. Nasir Harahap
Arjuna Hiqmah Lubis
Decky Chandrawan
Andri
Muhammad Nasir harahap



Nama organisasi yang tidak asing lagi dan sebagai pelopor penjelajah alam adalah
AWAL MANIS DAN SEDERHANANYA PAPA TEAM


    PAPA Team, adalah organisasi sederhana yang proses berdirinya sangat sederhana namun indah. PAPA Team berdiri sejak dimulainya Pendakian ke gunung Lubuk Raya pada tanggal 26 Desember 2007 (dijadikan sebagai hari jadi PAPA Team), pendakian yang dilaksanakan oleh 8 orang pemuda, namun pada hari kedua pendakian, pendakian mengalami kesulitan yang menjadikan pasukan pendaki terbagi dua, empat orang melanjutkan pendakian dan empat orang lagi menyatakan mundur dan turun kembali ke desa Sitaratoik di kaki G. Lubuk Raya, empat orang pendaki yang turun itu bukan karena ketidak setiaan namun merupakan hasil musyawarah agar semua pasukan selamat, karena jika mendaki dengan kondisi fisik yang tidak memungkinkan makan akan mendatangkan bahaya.


Namun keempat orang lagi melanjutkan pendakian pada hari ke tiga dengan membawa bekal makanan yang sebelumnya telah dibagi dua dengan pasukan yang turun gunung. Empat orang yang melanjutkan pendakian inipun dibekali dengan ilmu navigasi darat yang tidak memadai namun dengan tekat yang kuat dan semangat yang membara keempat orang ini melanjutkan pendakian. Sampai pada malam terindah dan tidak bakal terlupakan orang empat orang ini adalah malam ke tiga yang bertepatan pada malam tahun baru 2008 ke empat orang ini terpaksa tidur di atas batu besar dan di tengah-tengah sungai (besar sungainya +- sebesar sungai parsariran) di tengah-tengah hutan Lubuk Raya karena pada saat itu tidak ada jalan lain kecuali tidur di atas batu mengingat sisi/pinggir sungai bagaikan tebing jurang yang mustahil didaki pada malam hari dengan hanya bermodalkan tali pandu, hulu dan hilir sungai merupakan air terjun yang tidak mungkin dilewati saat itu~ (pada malam hari itu semua pasukan PAPA Team bernadjar untuk keselamatan semua, karena jika hujan turun dimalam itu bisa dipastikan semua pasukan PAPA Team akan disapu arus sungai menuju air terjung yang berjarak +- 100 meter dari tempat batu persinggahan).


Malam itu semua pasukan PAPA Team hanya mampu melihat banyak dan terangnya bintang seakan bintang itu berusaha menghibur empat orang pendaki PAPA Team dan di temani suara arus sungai yang deras seperti suara radio yang tidak memiliki antena.  Keesokan paginya nyatalah sudah perjuangan tadi malam pada saat menuruni tebing menuju batu persinggahan, terlihat tali pandu yang masih bergelantung di tebing dan tepat di bawahnya pecahan kaca lampu badai karena insiden yang tidak di inginkan. Anggota PAPA Team pun melanjutkan pendakian pada hari ke 4 tepat pada tanggal 1 Januari 2008, ending pendakian yang sampai pada kebun masyarakat Desa Simatorkis. Pendakian yang dimulai dari Desa Sitaratoik Padangsidimpuan kemudian menyusuri hutan Lubuk Raya dan tembus sampai ke Desa Simatorkis Parsalakan Tapanuli Selatan. Setelah sampainya di Desa Simatorkis anggota PAPA Team merasakan~ inilah kepuasan pendaki sejati!
tangan penuh luka yang dilapisi obat biru dan terlihat wajah sedih+gembira yang tidak tergambarkan (sejak saat itulah semangat PAPA Team tertanam dalam hati para Pendiri PAPA team, tetap melanjutkan angan-angan yang sederhana yang dicita-citakan anggota PAPA Team) bagi anggota PAPA Team, PAPA Team bukan hanya sekedar organisasi penggiat alam bebas namu PAPA Team ada di hati dan itu akan terus hidup). Ke empat orang inilah yang telah berhasil menyelesaikan pendakian G. Lubuk Raya menyatakan diri sebagai pendiri Organipasi Penjelajah Alam pertama di kota Padangsidimpuan yaitu (PAPA Team) Persatuan Anak Penjelajah Alam oleh Arjuna Hiqmah Lubis, Decky Chandrawan, Andriadi dan Mhd. Nasir Harahap.


Sejak saat itulah PAPA Team terus disuarakan dan dipublikasikan melalui Radio, jejaring sosial, internet brosur dan bahkan anggota PAPA Team juga mengajak anggota Pramuka saat itu untuk bergabung seperti melalui pelantikan Bantara dan lain-lain.
Begitulah sedikit sejarah berdirinya PAPA Team yang membutuhkan proses yang cukup lama dan tidak dapat diceritakan satu-persatu.
Bendera PAPA Team berlambangkan mata yang memandang alam dengan komposisi warna Putih, Hitam, Biru, Merah, Hijau dan Kuning yang memiliki makna tersendiri (Tertuang dalam buku anggtota PAPA Team).


Sampai saat ini sudah banyak orang yang pernah menjelajah dengan PAPA Team, PAPA Team memiliki anggota dan teman PAPA Team (dijelaskan dalam AD/ART PAPA Team).
PAPA Team melakukan perekrutan anggota dan teman PAPA Team hanya pada saat dibutuhkannya penerus baru, PAPA Team telah beberapa kali melakukan perekrutan anggota yang terpilih tidak pernah lebih dari 5 orang karena PAPA Team berangkat dari ketulusan hati mencari penerus yang setia dan berjiwa besar bukan untuk mencari penghidupan dari anggotanya. Anggota dan organisasi PAPA Team adalah independent dan tidak terika.


APA SAJA KEGIATAN PAPA TEAM
»Pendakian
»Hiking dan kemping
»Pengijauan
»Menyuarakan Hijau Alamku
»Lomba Lintas Alam Tapanuli Selatan 1 DAN 2
»Mengekplor keindahan alam dan menemukan objek alam yang menarik.
»Mengajarkan teknik Survive DLL
"Begitulah organisasi PAPA Team yang sederhana berawal dari angan-angan para pemuda lugu yang tidak tahu alam namun memiliki rasa ingin tahu yang besa sampai sekarang PAPA Team memberikan yang terindah dari alam dan terkesan apa adanya"
Tidak semua pecinta/penjelajah alam mempunyai kesempatan bergabung dengan PAPA Team dikarenakan waktu yang minim.
#PAPA Team yang dari dulu menjelajah dengan jalan kaki, naik angkot ke angkot dan bertanya kesana kesini untuk sampai ke tujuan#
SEARCH PAPA TEAM PADANGSIDIMPUAN IN:
- Google
- Facebook
- Youtube
=JAYALAH TERUS PAPA TEAM JADILAH PANDU BAGI PENJELAJAH ALAM DI KOTA PADANGSIDIMGUAN=



Lampiran Photo Kegiatan






PAPA TEAM SEBAGAI ORGANISASI PENJELAJAH ALAM PERTAMA DAN PELOPOR DI KOTA PADANGSIDIMPUAN

|Manisnya Sejarah PAPA Team|
Tahukah sahabat alam semua siapa dan seperti apa perkembangan penggiat alam bebas di kota Padangsidimpuan? nah.. biar tahu seperti apa proses berkembangnya komunitas penjelajah alam ataupun pecinta alam di kota Padangsidimpuan mari kita simak.
Nama organisasi yang tidak asing lagi dan sebagai pelopor penjelajah alam adalah Persatuan Anak Penjelajah Alam atau yg biasa disingkat PAPA Team atau Tim PAPA. Sejarah PAPA Team ini sangat erat kaitannya dengan organisasi Pradja Muda Karana atau yang disingkat Pramuka, kenapa bisa? ya.. para pendiri PAPA Team ini berlatar belakang Pramuka, karena memiliki hobbi yang sama maka founding father PAPA Team menyalurkan hobbinya melalui organisasi yang dibentuk bersama yaitu organisasi independen PAPA Team. Tapi, siapakah gerangan pendiri PAPA Team dan seperti apa ceritanya? Nah.. pendiri PAPA Team yang sering disebut-sebut PAPA Team itu ada 4 orang, yaitu:
» Arjuna Hiqmah Lubis
» Decky Chandrawan
» Andriadi
» Mhd. Nasir Harahap

AWAL MANIS DAN SEDERHANANYA PAPA TEAM
    PAPA Team, adalah organisasi sederhana yang proses berdirinya sangat sederhana namun indah. PAPA Team berdiri sejak dimulainya Pendakian ke gunung Lubuk Raya pada tanggal 26 Desember 2007 (dijadikan sebagai hari jadi PAPA Team), pendakian yang dilaksanakan oleh 8 orang pemuda, namun pada hari kedua pendakian, pendakian mengalami kesulitan yang menjadikan pasukan pendaki terbagi dua, empat orang melanjutkan pendakian dan empat orang lagi menyatakan mundur dan turun kembali ke desa Sipiongot di kaki G. Lubuk Raya, empat orang pendaki yang turun itu bukan karena ketidak setiaan namun merupakan hasil musyawarah agar semua pasukan selamat, karena jika mendaki dengan kondisi fisik yang tidak memungkinkan makan akan mendatangkan bahaya. Namun keempat orang lagi melanjutkan pendakian pada hari ke tiga dengan membawa bekal makanan yang sebelumnya telah dibagi dua dengan pasukan yang turun gunung. Empat orang yang melanjutkan pendakian inipun dibekali dengan ilmu navigasi darat yang tidak memadai namun dengan tekat yang kuat dan semangat yang membara keempat orang ini melanjutkan pendakian. Sampai pada malam terindah dan tidak bakal terlupakan orang empat orang ini adalah malam ke tiga yang bertepatan pada malam tahun baru 2008 ke empat orang ini terpaksa tidur di atas batu besar dan di tengah-tengah sungai (besar sungainya +- sebesar sungai parsariran) di tengah-tengah hutan Lubuk Raya karena pada saat itu tidak ada jalan lain kecuali tidur di atas batu mengingat sisi/pinggir sungai bagaikan tebing jurang yang mustahil didaki pada malam hari dengan hanya bermodalkan tali pandu, hulu dan hilir sungai merupakan air terjun yang tidak mungkin dilewati saat itu~ (pada malam hari itu semua pasukan PAPA Team bernadjar untuk keselamatan semua, karena jika hujan turun dimalam itu bisa dipastikan semua pasukan PAPA Team akan disapu arus sungai menuju air terjung yang berjarak +- 100 meter dari tempat batu persinggahan). Malam itu semua pasukan PAPA Team hanya mampu melihat banyak dan terangnya bintang seakan bintang itu berusaha menghibur empat orang pendaki PAPA Team dan di temani suara arus sungai yang deras seperti suara radio yang tidak memiliki antena.  Keesokan paginya nyatalah sudah perjuangan tadi malam pada saat menuruni tebing menuju batu persinggahan, terlihat tali pandu yang masih bergelantung di tebing dan tepat di bawahnya pecahan kaca lampu badai karena insiden yang tidak di inginkan. Anggota PAPA Team pun melanjutkan pendakian pada hari ke 4 tepat pada tanggal 1 Januari 2008, ending pendakian yang sampai pada kebun masyarakat Desa Simatorkis. Pendakian yang dimulai dari Desa Sitaratoik Padangsidimpuan kemudian menyusuri hutan Lubuk Raya dan tembus sampai ke Desa Simatorkis Parsalakan Tapanuli Selatan. Setelah sampainya di Desa Simatorkis anggota PAPA Team merasakan~ inilah kepuasan pendaki sejati!
tangan penuh luka yang dilapisi obat biru dan terlihat wajah sedih+gembira yang tidak tergambarkan (sejak saat itulah semangat PAPA Team tertanam dalam hati para Pendiri PAPA team, tetap melanjutkan angan-angan yang sederhana yang dicita-citakan anggota PAPA Team) bagi anggota PAPA Team, PAPA Team bukan hanya sekedar organisasi penggiat alam bebas namu PAPA Team ada di hati dan itu akan terus hidup). Ke empat orang inilah yang telah berhasil menyelesaikan pendakian G. Lubuk Raya menyatakan diri sebagai pendiri Organipasi Penjelajah Alam pertama di kota Padangsidimpuan yaitu (PAPA Team) Persatuan Anak Penjelajah Alam oleh Arjuna Hiqmah Lubis, Decky Chandrawan, Andriadi dan Mhd. Nasir Harahap.
Sejak saat itulah PAPA Team terus disuarakan dan dipublikasikan melalui Radio, jejaring sosial, internet brosur dan bahkan anggota PAPA Team juga mengajak anggota Pramuka saat itu untuk bergabung seperti melalui pelantikan Bantara dan lain-lain.
Begitulah sedikit sejarah berdirinya PAPA Team yang membutuhkan proses yang cukup lama dan tidak dapat diceritakan satu-persatu.
Bendera PAPA Team berlambangkan mata yang memandang alam dengan komposisi warna Putih, Hitam, Biru, Merah, Hijau dan Kuning yang memiliki makna tersendiri (Tertuang dalam buku anggtota PAPA Team).
Sampai saat ini sudah banyak orang yang pernah menjelajah dengan PAPA Team, PAPA Team memiliki anggota dan teman PAPA Team (dijelaskan dalam AD/ART PAPA Team).
PAPA Team melakukan perekrutan anggota dan teman PAPA Team hanya pada saat dibutuhkannya penerus baru, PAPA Team telah beberapa kali melakukan perekrutan anggota yang terpilih tidak pernah lebih dari 5 orang karena PAPA Team berangkat dari ketulusan hati mencari penerus yang setia dan berjiwa besar bukan untuk mencari penghidupan dari anggotanya. Anggota dan organisasi PAPA Team adalah independent dan tidak terika.

APA SAJA KEGIATAN PAPA TEAM
»Pendakian
»Hiking dan kemping
»Pengijauan
»Menyuarakan Hijau Alamku
»Lomba Lintas Alam Tapanuli Selatan 1 DAN 2
»Mengekplor keindahan alam dan menemukan objek alam yang menarik.
»Mengajarkan teknik Survive DLL

"Begitulah organisasi PAPA Team yang sederhana berawal dari angan-angan para pemuda lugu yang tidak tahu alam namun memiliki rasa ingin tahu yang besa sampai sekarang PAPA Team memberikan yang terindah dari alam dan terkesan apa adanya"

Tidak semua pecinta/penjelajah alam mempunyai kesempatan bergabung dengan PAPA Team dikarenakan waktu yang minim.

#PAPA Team yang dari dulu menjelajah dengan jalan kaki, naik angkot ke angkot dan bertanya kesana kesini untuk sampai ke tujuan#

SEARCH PAPA TEAM PADANGSIDIMPUAN IN:
- Google
- Facebook
- Youtube

=JAYALAH TERUS PAPA TEAM JADILAH PANDU BAGI PENJELAJAH ALAM DI KOTA PADANGSIDIMGUAN=

Selasa, 11 Februari 2014

Arjuna Hanya Pendaki Gunung Dari Kota Padangsidimpuan Sumatera Utara yang masih belajar, sederhana dan sering mendaki, menjelajah, kemping, hiking menyuarakan peduli lingkungan di Tanah Tapanuli

jArjuna Hiqmah Lubis hanyalah seorang penjelajah alam yang mempunyai keinginan yang besar untuk mendaki dan mengekspous setiap keindahan alam dari lembah sampai puncak-puncak gunung. Dengan modal hobbi ini Arjuna sering melakukan penjelajahan baik itu kemping maupun hiking, salah satu organisasinya adalah Persatuan Anak Penjelajah Alam kota Padangsidimpuan yang biasa disingkat Tim PAPA atau PAPA Team yang didirikan di kota Padangsidimpuan pada tanggal 26 Des. 2007 silam. Arjuna hanya pendaki sederhana dan pendaki gak bermodal (karena dibanyak pendakian yang Arjuna lakukan harus naik angkot kesana kemari sebelum memulai mendaki dan tidak jarang berjalan kaki sendirian hanya untuk menyalurkan semangatnya) namun kaya dengan semangat mencintai alam terutama alam di tanah Tapanuli Padangsidimpuan.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Organisasi Pecinta Alam Apa Saja Yang Ada Di Kota Padangsidimpuan? "VERSI TAPANULI NADEGES"

Di kota Padangsidimpuan banyak terdapat organisasi yang bergerak di bidang penjelajahan alam. Melihat kota Padangsidimpuan yang dikelilingi perbukitan dan alam yang masih terbilang hijau maka para remaja Sidimpuan senang berlibur dengan menikmati suasana alam, apalagi komunitasnya sudah sangat banyak tentu dapat memberikan hal positif untuk alam di sekitar Padangsidimpuan. Adapun beberapa organisasi Alam yang saya ketahui di kota Padangsidimpuan adalah sebagai berikut:
Disusun mulai dari awal berdirinya organisasi:
1. PAPA Team kota Padangsidimpuan, singkatan (Persatuan Anak Penjelajah Alam), berdiri sejak tahun 2007.
2. MAPASTA, singkatan dari (Mahasiswa Pecinta Alam Semesta), berdiri sejak 2009.
3. KOMPEL UMTS, singkatan dari (Komunitas Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan), yang berdiri sekitar tahu 2010.
4. MAPALA STKIP Tapanuli Selatan, singkataan dari (Mahasiswa Pecinta Alam), yang berdiri sekitar tahun 2011.
5. ADVENTURE GIRL, ini khusus gadis-gadis petualang yang berdiri sekitar tahun 2013.
6. S O N, singkatan dari (Soul Of Natural) organisasi ini pada umumnya merekrut anak SMA sederajat berdiri sekitar tahun 2013.

Itulah beberapa organisasi Alam di kota Padangsidimpuan, semoga semakin banyak lagi organisasi penggiat alam yang tumbuh dan tetap menyuarakan restorasi alam demi kebaikan bersama.

Klik: Lihat video alam kota Padangsidimpuan.

Senin, 08 Juli 2013

Danau Tao



Danau Tao

Danau tao ini terdapat di Desa Pangkal dolok Kecamatan Sayurmatinggi Kabupaten Tapanuli Selatan, danau tao ini bentuknya seperti paret yang luas dan memanjang, apabila musim penghujan maka air danau ini juga akan bertambah luas, danau ini dikelilingi perbukitan gundul yang hanya ditumbuhi ilalang dan tanaman balakka (tanaman khas daerah Padangbolak) dan di bukit-bukit sekitar danau ini masyarakat setempat beternak sapid dan kerbau. Bisa dibilang panorama danau ini sangat indah, di danau juga bisa dinikmati dengan menaiki rakit-rakit yang dibuat oleh masyarakat setempat dari bambu. Danau tao ini sangat banyak manfaatnya bagi warga desa karena rata-rata profesi masyarakat adalah berkebun dan beternak sapi yang biasanya dimandikan dipinggiran danau, di danau ini juga banyak ikan nya biasanya masyarakat menangkap ikan di sepanjang pinggiran danau dengan menggunakan pancing ataupun tembak ikan, ikannyapun bermacam-macam seperti: ikan gabus, lele, mujair dll. 
Masyarakat di sekitar danau tao ini sangat ramah-ramah sekali  kepada para pendatang, pada saat saya berbincang-bincang dengan para warga masyarakat Desa Pangkal dolok ini (istilah bataknya martarombo) ternyata masyarakat di desa ini hampir keseluruhan bermarga Harahap dan biasanya yang nikah harahap dengan harahap, selebihnya marga rambe dan lain sebagainya.
Di desa ini ada juga makam yang usianya sudah puluhan tahun (Bale Pondom haijuran Pulungan Harahap) katanya ini adalah makam salah satu leluhur perintis Desa Pangkal Dolok.

 Jalur akses ke danau ini bisa dikatakan mudah, jika kita memulai perjalanan dari kota Padangsidimpuan bisa menaiki bus sampai ke simpang Desa Pangkal dolok kira-kira 1jam atau sekitar 30km (ongkos Rp 10.000), dan dari simpang Desa menuju ke danau akan melewati jalan aspal disambung dengan jalan batu dan tanah sekitar 5 Km (tidak ada angkutan umum kecuali hari-hari tertentu).






Sabtu, 06 April 2013

Taman Nasional Batang Gadis (TNBG)


Taman Nasional Batang Gadis (TNBG)

Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) adalah sebuah taman nasional di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, terletak di 99° 12’ 45" BT sampai dengan 99° 47’ 10" dan 0° 27’ 15" sampai dengan 1° 01’ 57" LU dan secara administrasi wilayah ini dikelilingi 68 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal. Nama taman nasional ini berasal dari dari nama sungai utama yang mengalir dan membelah Kabupaten Madina, Sungai Batang Gadis.

TNBG meliputi kawasan seluas 108.000 hektar atau 26% dari total luas Madina yang terletak pada ketinggian 300 s/d 2.145 meter di
atas permukaan laut dengan titik tertinggi puncak Gunung Sorik Merapi.

Melalui SK No 126/Menhut-II/2004 Menteri Kehutanan, TNBG disahkan sebagai Taman


 Nasional. TNBG terdiri dari dari kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi tetap. Hutan lindung yang dialih fungsikan seluas 101.500 ha, terdiri dari hutan lindung Register 4 Batang Gadis I, hutan Register 5 Batang Gadis II komp I dan II, Register 27 Batang Natal I, Register 28 Batang Natal II, Register 29 Bantahan Hulu dan Register 30 Batang Parlampuan I yang sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak masa pemerintahan Belanda dalam kurun waktu 1921 – 1924. Sementara kawasan hutan produksi yang dialihkan meliputi areal eks HPH PT. Gruti, seluas 5.500 ha, dan PT. Aek Gadis Timber seluas 1.000 ha.

Tujuan pembentukan taman nasional adalah untuk menyelamatkan satwa dan habitat alam. TNBG juga sebagai simbol pengakuan nilai-nilai kearifan lokal dalam mengelola hutan.

Salah satu kearifan tradisional masyarakat setempat ini dibuktikan dengan lubuk larangan atau naborgo-borgo atau harangan rarangan atau hutan larangan, merupakan beberapa contoh kearifan lokal yang hingga kini masih lestari.

Pembentukan ini juga sangat penting mengingat bahwa laju kerusakan hutan alam di propinsi ini sudah pada tingkat yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Departemen Kehutanan pada tahun 2003, kerusakan hutan di kawasan ini mencapai 3,8 juta ha per tahun. Kerusakan hutan di Sumatera Utara sendiri mencapai 76 ribu ha per tahun dalam kurun waktu 1985 – 1998.

Sampai akhir November 2004 kerusakan hutan yang disebabkan penebangan liar (illegal logging) dan kebakaran
hutan di Sumut mencapai 694.295 ha, untuk hutan lindung mencapai 207.575 ha, hutan konservasi 32.500 ha, hutan bakau 54 220 ha dan hutan produksi sekitar 400.000 ha.
Pembentukan taman nasional ini juga tidak semata-mata upaya pemerintah saja, melainkan atas jerih payah masyarakat dan kalangan lembaga swadaya masyarakat seperti, BITRA Indonesia, Conservation International Indonesia (CII), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, PUSAKA Indonesia, Yayasan Leuser Lestari (YLL), Yayasan Samudra dan lain-lain.



 



Dikutip dari Wikipedia.

Jumat, 05 April 2013

Air Terjun Sakkubit Di desa Simasom













Air Terjun Sakkubit Di desa Simasom

Air terjun sakkubit ini merupakan air terjun yang mempunyai ketinggian sedang -+ 15 meter, namun bagi para penjelajah alam ataupun orang yang haus akan pesona alam ini merupakan suatu objek yang wajib di kunjungi, namun bagi pengunjung agar berhati-hati walaupun air terjun ini terlihat berukuran sedang orang setempat mengatakan air terjun ini banyak penghuninya (seperti makhluk gaib) jadi harus jaga etika baik itu perkataan dan perbuatan. Letaknya tidak jauh dari pusat kota Padangsidimpuan yaitu sekitar -+17km. Dari pusat kota Padangsidimpuan bisa menggunakan kendaraan umum angkot bernomor "01" menuju ke sadabuan (Rp 2000/@)  kemudian dari sadabuan menaiki angkot dengan jurusan  Siharang-karang menuju ke Desa Simasom, dusun III batu Lanja (Rp 4000/@),
dari simpang usun III berjalan kaki -+ 300 meter dari jalan aspal akan sampai di jembatan sungai, sebelum sampai ke jembatan sungai ada simpang jalan setapak ke sebelah kiri, jalan setapak inilah diikuti berjalan kaki -+ 200 meter hingga sampai ke air terjun di sebelah kiri jalan. Selamat menikmati pesona air terjun.














Senin, 25 Maret 2013

Tor Simago-mago


Simago-mago

Tor atau bukit simago-mago ini berada di kecamatan Sipirok, bukit Simago-mago ini berhadap-hadapan dengan gunung sibual-buali tidak jauh dengan Tor Sibohi Hotel. Tor simago-mago merupakan objek wisata alam perbukitan dimana kita bisa memandangi indahnya panorama alam sipirok dari puncak Simago-mago. Kata “si-mago-mago” ini berasal dari bahasa batak berarti “si-hilang-hilang” menurut legenda kenapa nama ini disematkan kepada bukit/tor yang satu ini karena dahulu kala ada muda dan mudi yang berpacaran di bukit ini kemudian menghilang begitu saja, percaya atau tidak itulah cerita
yang beredar di masyarakat. Jarak tor Simago-mago ini -+ 25 Km dari kota Padangsidimpuan (ongkos Rp 7000/@) dengan menggunakan angkutan umum. Kemudian memasuki simpang
menuju puncak simago-mago yang ada tepat di samping tusu makam phlawan (bisa naik kendaraan pribadi/berjalan mendaki sejauh -+ 300 meter) sampai puncak tor simago-mago ada beberapa meja dan kursi terbuat dari semen untuk para pengunjung disekitar tower tv dan di tor ini ditumbuhi ilalang yang luas dan ditanami
  beberapa pohon pinus. Udara  di bukit Simago-mago ini cukup sejuk.

Candi Pulo - Padang Lawas Utara, Sumatera Utara


Candi Pulo - Padang Lawas Utara, Sumatera Utara

Candi Pulo ini juga termasuk salah satu bagian dari kawasan candi di Padang Lawas Utara yang tidak terawan, candi ini juga merupakan tempat pemujaan umat hindu, bahkan usia candi ini saya prediksi jauh lebih tua dari candi yang lain melihat keadaannya yang sudah hancur lebur tidak seperti candi yan lain dapat dipugar karena candi yang lain bentuk aslinya masih kelihatan. Candi ini terletak di Desa Bahal Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara. Bangunan Candi Pulo terbuat dari bahan bata berdenah persegi panjang dengan ukuran sekitar 4 X 9 meter dengan tinggi bangunan yang tersisa adalah sekitar 2 meter.  Tangga bangunan diperkirakan terletak di sisi utara. Di tiap-tiap sisi terdapat relief motif sulur-suluran. Selain itu di bagian tersebut juga terdapat relief banteng bertubuh manusia, relief manusia dengan mata melotot dan relief manusia dengan kepala gajah. Candi ini masih dalam tahap pemugaran bersana dengan candi Sipamutung.

Para peneliti mengungkapkan bahwa candi di desa Bahal ini adalah tiga di antara 26 runtuhan candi yang tersebar seluas 1.500 km² di situs percandian Padanglawas, yang berarti candi-candi yang terletak di padang luas yang mencakup, di antaranya:
Candi Pulo
Candi Barumun
Candi Singkilon
Candi Sipamutung
Candi Aloban
Candi Rondaman Dolok
Candi Bara
Candi Magaledang
Candi Sitopayan
Candi Nagasaribu.

Kemungkinan, persawahan dan perkampungan di sekitar candi-candi tersebut tadinya merupakan padang yang sangat luas. Dari sekian banyak candi Padanglawas hanya Candi Bahal yang sudah selesai dipugar, Candi Sipamutung dan Candi Pulo sedang dalam proses renovasi, sedangkan candi lainnya masih berupa reruntuhannya.

dikutip dari warna info.

Candi Bahal III


Candi Bahal III

Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yaitu sekitar 3 jam perjalanan dari Padangsidempuan (bisa menaiki angkutan umum taksi ongkos Rp 10.000 sampai ke simpang candi bahal, dari simpang candi bahal menuju ke candi bahal I berkisar 800 meter, bahal I ke bahal II berjarak -+ 300 meter, bahal II ke Bahal III berjarak -+ 300 meter, namun tidak ada angkutan umum dari simpang candi menuju candi bahal) atau berjarak sekitar 400 km dari Kota Medan. Candi ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malaka yang ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya.

Candi ini diberi nama berdasarkan nama desa tempat bangunan ini berdiri. Selain itu nama Portibi dalam bahasa Batak berarti 'dunia' atau 'bumi' istilah serapan yang berasal dari bahasa sansekerta: Pertiwi (dewi Bumi).

Arsitektur bangunan candi ini hampir serupa dengan Candi Jabung yang ada Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Candi ini merupakan kompleks candi (dalam istilah setempat disebut biaro) yang terluas di provinsi Sumatera Utara, karena arealnya melingkupi kompleks Candi Bahal I, Bahal II dan Bahal III. Seluruh bangunan di ketiga kompleks candi dibuat dari bata merah, kecuali arca-arcanya yang terbuat dari batu keras. Masing-masing kompleks candi dikelilingi oleh pagar setinggi dan setebal sekitar 1 m yang juga terbuat dari susunan bata merah. Di sisi timur terdapat gerbang yang menjorok keluar dan di kanan-kirinya diapit oleh dinding setinggi sekitar 60 cm. Di setiap kompleks candi terdapat bangunan utama yang terletak di tengah halaman dengan pintu masuk tepat menghadap ke gerbang. Berikut adalah deskripsi kompleks candi ini.

Bahal III

Candi Bahal II berjarak sekitar 100 meter dari jalan, namun untuk mencapai lokasi Candi Bahal
III pengunjung harus melalui jalan setapak, pematang sawah dan perumahan penduduk. Terdapat banyak kemiripan antara Candi Bahal III dan kedua candi Bahal lainnya. Pelataran candi yang luasnya relatif sama juga dikelilingi pagar batu bata dengan ketebalan dan ketinggian yang sama. Gerbang untuk masuk ke halaman juga terletak di sisi timur. Sama halnya dengan bangunan utama Candi Bahal III yang terletak di tengah pelataran. Gerbang Candi Bahal III lebih mirip dengan gerbang Candi Bahal I, karena tangga naik ke gerbang terletak di sisi utara dan selatan. Tangga di gerbang Candi Bahal II terletak di timur.

Ukuran dan bentuk bangunan utama Candi Bahal III sangat mirip dengan bangunan utama Candi Bahal II. Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi juga terletak di timur. Tidak terdapat pahatan pada bingkai pintu, namun sepanjang dinding tatakan dihiasi pahatan dengan motif yang mirip bunga. Atap Candi Bahal II berbentuk limas dengan puncak persegi empat. Mirip dengan atap Candi Bahal II.

Para peneliti mengungkapkan bahwa candi di desa Bahal ini adalah tiga di antara 26 runtuhan candi yang tersebar seluas 1.500 km² di situs percandian Padanglawas, yang berarti candi-candi yang terletak di padang luas yang mencakup, di antaranya:
Candi Barumun
Candi Singkilon
Candi Aloban
Candi Rondaman Dolok
Candi Bara
Candi Magaledang
Candi Sitopayan
Candi Nagasaribu.

Kemungkinan, persawahan dan perkampungan di sekitar candi-candi tersebut tadinya merupakan padang yang sangat luas. Dari sekian banyak candi Padanglawas hanya Candi Bahal yang sudah selesai dipugar, Candi Sipamutung dan Candi Pulo sedang dalam proses renovasi, sedangkan candi lainnya masih berupa reruntuhannya.

Candi Bahal II


Candi Bahal II

Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yaitu sekitar 3 jam perjalanan dari Padangsidempuan (bisa menaiki angkutan umum taksi ongkos Rp 10.000 sampai ke simpang candi bahal, dari simpang candi bahal menuju ke candi bahal I berkisar 800 meter, bahal I ke bahal II berjarak -+ 300 meter, bahal II ke Bahal III berjarak -+ 300 meter, namun tidak ada angkutan umum dari simpang candi menuju candi bahal) atau berjarak sekitar 400 km dari Kota Medan. Candi ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malaka yang ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya.

Candi ini diberi nama berdasarkan nama desa tempat bangunan ini berdiri. Selain itu nama Portibi dalam bahasa Batak berarti 'dunia' atau 'bumi' istilah serapan yang berasal dari bahasa sansekerta: Pertiwi (dewi Bumi).

Arsitektur bangunan candi ini hampir serupa dengan Candi Jabung yang ada Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Candi ini merupakan kompleks candi (dalam istilah setempat disebut biaro) yang terluas di
 provinsi Sumatera Utara, karena arealnya melingkupi kompleks Candi Bahal I, Bahal II dan Bahal III. Seluruh bangunan di ketiga kompleks candi dibuat dari bata merah, kecuali arca-arcanya yang terbuat dari batu keras. Masing-masing kompleks candi dikelilingi oleh pagar setinggi dan setebal sekitar 1 m yang juga terbuat dari susunan bata merah. Di sisi timur terdapat gerbang yang menjorok keluar dan di kanan-kirinya diapit oleh dinding setinggi sekitar 60 cm. Di setiap kompleks candi terdapat bangunan utama yang terletak di tengah halaman dengan pintu masuk tepat menghadap ke gerbang. Berikut adalah deskripsi kompleks candi ini.

Bahal II

Candi Bahal II terletak sekitar 100 meter dari jalan dan sekitar 300 meter dari Candi Bahal I. Pelataran Candi Bahal II sama luasnya dengan pelataran Candi Bahal I dan juga dikelilingi pagar bata, akan tetapi ukuran bangunan utamanya lebih kecil dari bangunan utama Candi Bahal I. Pada pertengahan sisi timur, dinding halaman melebar, membentuk lantai yang menjorok sekitar 4 m ke arah luar halaman candi. Dinding setinggi sekitar 70 cm mengapit sisi kanan dan kiri lantai tersebut sampai ke batas tangga yang terdapat sisi timur.

Bangunan utama Candi Bahal II terdiri atas susunan tatakan, kaki, tubuh dan atap candi. Tatakan candi berdenah dasar bujur sangkar seluas sekitar 6 meter persegi dan setinggi sekitar 1 meter. Di depan pangkal tangga bangunan utama terdapat sepasang kepala makara dengan mulut terbuka. Di atas tatakan berdiri kaki candi setinggi 75 cm, dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar seluas 5 meter persegi. Selisih luas tatakan dan kaki candi membentuk selasar mengelilingi kaki candi.

Dalam tubuh Candi Bahal II juga terdapat ruangan kosong berukuran sekitar 3 meter persegi, dikelilingi dinding setebal sekitar 1 meter. Pintu masuk selebar sekitar 120 x 250 cm menghadap ke timur tanpa pahatan hiasan apapun pada bingkainya. Dinding tatakan, kaki dan tubuh candi juga polos tanpa hiasan pahatan. Atap Candi Bahal II berbentuk limas dengan puncak persegi empat.
Para peneliti mengungkapkan bahwa candi di desa Bahal ini adalah tiga di antara 26 runtuhan candi yang tersebar seluas 1.500 km² di situs percandian Padanglawas, yang berarti candi-candi yang terletak di padang luas yang mencakup, di antaranya:
Candi Barumun
Candi Singkilon
Candi Aloban
Candi Rondaman Dolok
Candi Bara
Candi Magaledang
Candi Sitopayan
Candi Nagasaribu.

Kemungkinan, persawahan dan perkampungan di sekitar candi-candi tersebut tadinya merupakan padang yang sangat luas. Dari sekian banyak candi Padanglawas hanya Candi Bahal yang sudah selesai dipugar, Candi Sipamutung dan Candi Pulo sedang dalam proses renovasi, sedangkan candi lainnya masih berupa reruntuhannya.

TAPANULI NADEGES BLOGNYA ORANG TAPANULI

Masyarakat Tapanuli juga bisa berperan dalam mengirimkan berita tentang tapanuli, baik itu budaya, adat istiadat, peristiwa alam, perjalanan, maupun karya seni seperti photo video, cerpen dll. dapat dikirimkan ke email: tapanulinadeges@gmail.com http://tapanulinadeges.blogspot.com/2013/11/mari-kirimkan-karyamu-ke-tapanuli.html

Tapanuli Tanah yang kaya dan masyarakatnya beradat
Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh